| |
| |
SEGERA! |
|
|
|
DAPATKAN PAKET LENGKAP MENERBITKAN BUKU |
|

Saya anggap buku itu sebagai teman. Ia selalu ada didekat saya saat bekerja, di perjalanan dan saat jeda syuting. Sebenarnya sejak SD saya sudah dekat dengan buku. Saat itu saya suka banget dengan si Kuncung. Majalah yang sarat nilai, ceritanya sangat seru dan lucu. Bahkan saking pingin tahu cerita-ceritanya, saya ambil majalah-majalah itu di ruang baca tanpa seijin guru-guru… terang saja mereka kelabakan karena si Kuncung raib hehehe…. Tapi, setelah habis saya baca, saya kembalikan kok…
Koleksi, Koleksi dan Koleksi
Koleksi buku yang ada saat ini lebih banyak buku-buku agama, selain buku dari beberapa disiplin ilmu; ada sosial, sastra dan pengetahuan umum. Saya memang nggak berusaha membatasi koleksi agar wawasan yang berkembang juga tidak monoton. Dari koleksi itu ada satu buku favorit karya Syeikh Abdul Qadir Jaelani, berjudul Mencintai Allah. Menarik karena setiap permasalahan yang ada dikupas cukup dalam. Dan menurut saya buku itu tidak dipengaruhi oleh beberapa paham agama yang berkembang pada waktu terakhir ini. Mencintai Allah membuat saya lebih jernih saat mendapati masalah, karena buku itu bagi saya berfungsi mencerahkan; pencerahan hati, pemikiran dan sikap. Buku lain yang sangat berkesan Mahabah Cinta milik Rabiah al Adawiyah, sufi besar asal Basrah yang menjalani kehidupan zuhud pada 713 hingga 801 M. Puisi-puisinya dahsyat, kaya dengan makna cinta dan punya estetika sangat tinggi. Buku-buku favorit saya memang lebih bertema cinta, terutama kecintaan pada Allah karena setelah mambacanya, ia mampu melembutkan hati.
Tentang kebiasaan baca ini ada beberapa pengalaman yang cukup menarik dan mungkin cukup bermanfaat. Seperti yang terjadi saat syuting bulan lalu, ada seorang teman yang pinjam buku Mencintai Allah. Tak lama setelah itu ia menghampiri saya sambil menangis, “Luar biasa! Luar biasa!” hanya itu kata-kata yang diucapkan. Lalu ia mengaku telah menemukan jawabannya. Ia yang selama ini egois, tidak sensitif sama lingkungan dan punya keinginan tak terkendali, ternyata mampu terjawab kenapa ia bersikap seperti itu dan terungkap juga solusinya.
Pengaruh baca yang lain adalah wawasan yang melebar ke mana-mana. Saat hadir di forum tertentu, misalnya talk show di Universitas Trisakti atau saat diundang oleh Ikatan Pemuda Depok serta walikota Nur Mahmudi. Semua yang pernah saya baca menjadi referensi diskusi itu, yang pasti telah banyak buku yang cukup memengaruhi pola pikir saya dan sangat membantu ketika harus bicara disebuah forum.
Menurut saya gerakan cinta buku sangat penting. Di rumah, kami sengaja mengurangi jam untuk menonton tv dan berusaha menyediakan waktu untuk membaca. Kalau ada teman datang, selain sajian minuman dan makanan ringan, saya selalu “menghidangkan” buku untuk mereka nikmati. Jadi, seperti cemilan, membaca adalah satu hal yang bisa dilakukan setiap saat, di mana pun dan oleh siapa pun.
Obsesi saya tentang buku, saya ingin sekali mendirikn perpustakaan, terutama perpustakaan agama. Bukan di tempat saya tinggal saat ini, tapi di Garut tempat asal saya. Di sana saya lihat masih sangat membutuhkan bahan bacaan karena jauh dari kota, dan tentu sangat jarang atau bahkan tidak ada fasilitas baca. Karena buku telah begitu memengaruhi dan menginspirasi saya, maka saya ingin mereka pun terinspirasi untuk berpikir maju.
Artikel ini dimuat majalah Annida Edisi 02-XVII
[Helmy, penulis adalah editor, penulis buku, dan praktisi penerbitan mandiri. Bisa dihubungi via email: helmy.barometer@gmail.com]
|
|
|