Membacalah, maka jendela dunia akan terbuka. Ya, sejak dulu buku memiliki peran yang sangat penting bagi manusia. Tanpa buku, boleh jadi kita saat ini masih seperti manusia zaman prasejarah dan tak akan pernah mencapai peradaban modern seperti sekarang. Di bukulah orang-orang pintar dunia menuliskan pengalaman, pemikiran dan teori-teori mereka. Dan buku-buku itu kini dengan mudah dapat kita temui di banyak tempat termasuk perpus….
DAMAINYA NATSUKO SHIOYA

Sebenarnya nama perpus ini diambil dari nama seorang wanita muda dari negeri sang Kaisar, Jepang. Ia, Natsuko Shioya, datang ke Jogjakarta tahun 1994 dan langsung jatuh cinta dengan tanah Sri Sultan hingga ingin mendirikan perpustakaan di pedesaan. Namun pada 1997, ia meninggal dunia sebelum keinginannya terwujud. Dan dengan dana pribadi dari keluarga Natsuko di Jepang lah yang kemudian mewujudkan impian indah seorang Natsuko Shioya.
Berdiri tahun 2003, perpus ini terletak di desa Sumberan, Sariharjo, Sleman, sekitar 4 kilometer dari Jogjakarta. Ketenangan benar-benar tercipta di perpustakaan Natsuko Shioya. Ini nggak mengherankan karena berada di sebuah desa yang tenang dengan sawah yang menghampar di sisi kiri ruang baca, ditambah dengan udara yang sejuk serta latar panorama alam Gunung Merapi.
Dengan koleksi yang mencapai 3000 judul buku. Tempat ini memang membuat kita betah berlama-lama. Usia pengunjung pun nggak ada batasan karena di rak terdapat buku-buku bergambar untuk kanak-kanak hingga koleksi sastra dan filsafat. Perpustakaan Natsuko Shioya memang benar-benar memanjakan pembacanya. Di sana nggak hanya tersimpan koleksi buku bermutu, tapi juga suasana nyaman pedesaan dan bentangan alam yang memesona. Hm, benar-benar perpaduan yang sangat harmonis…
ORIENTASI GLOBAL
Papan nama berukuran besar terpampang jelas di gedung yang terletak di selatan Kampus UGM. Tepatnya, orang doeloe bilang, terletak di tepi gedoeng Schiec-terrein atau lapangan tembak. Sekarang dikenal dengan daerah Sekip, jalan C. Simanjuntak.
“Masuk tahun ke-50, perpus UGM menerbitkan buku “Menuju Pelayanan Global” artinya menuju perpustakaan internasional pertama di Jogjakarta, bahkan di Indonesia. Beberapa piranti cangih standard internasional sudah disiapkan,” urai Pak Paidjo, penanggung jawab Perpus. Koleksi yang mencapai 30.000 judul buku memang sangat mungkin untuk mewujudkan agendanya.
Gedung empat lantai ini punya layanan akses internet di lantai satu. Sementara lantai dua menawarkan ribuan koleksi buku serta layanan internet gratis. Selain ruang lantai dua, lantai tiga nggak kalah kaya dengan koleksi buku karena perpustakaan Hatta di jalan Adisucipto telah berpindah ke lantai tiga perpus UGM. Lalu lantai empat digunakan untuk radio Swaragama; tempat kawula muda mengekspresikan kreativitasnya. Sementara pengunjung luar UGM akan diberikan SIM alias Surat Izin Masuk untuk mendapat fasilitas dan layanan yang sama.
MBAH DAUZAN: PENDEKAR BUKU DARI KAUMAN
Usia boleh saja uzur, tapi semangat tak kan lekang oleh waktu. Tetap membara. Ia pria bernama Dauzan Farook, biasa dipanggil Mbah Dauzan, lahir di Jogjakarta, 21 Januari 1925! Sampai kini telah mengoleksi 5000 buku dan 4000 majalah. Dengan koleksinya ini, Mbah Dauzan telah mendirikan perpustakaan keliling Mabulir (Majalah dan Buku Keliling Bergilir). “Saya kelola dan danai sendiri sejak tahun 1990,” ujar Mbah Dauzan saat Nida sowan ke rumahnya di Kauman, Jogjakarta. Tak ayal ruang yang nggak seberapa luas itu sesak dengan buku. Bahkan hanya menyisakan satu tempat tidur saja. Semua ruang benar-benar penuh dengan buku.
Biasanya selepas shalat Ashar, Mbah Dauzan keliling Jogja mengedarkan berbagai buku dan majalah. Sasarannya kelompok bermain anak, remaja masjid, karang taruna, kelompok belajar, bahkan mahasiswa…
Dengan kegigihannya, kini sekitar 100 kelompok baca dengan masing-masing anggota 4-20 orang menjadi pembaca setia perpustakaan Mabulir.
[Dimuat majalah Annida Edisi 01-XVII]
[Helmy, penulis adalah editor, penulis buku, dan praktisi penerbitan mandiri. Bisa dihubungi via email: helmy.barometer@gmail.com]