| |
| |
SEGERA! |
|
|
|
DAPATKAN PAKET LENGKAP MENERBITKAN BUKU |
|

Helmi Y. | 23 Januari 2009
Tren menerbitkan buku sendiri/self publishing sudah tidak terbendung lagi. Banyak penulis dari berbagai latar belakang melakukannya. Kalau dicermati, meledaknya self publishing ini diawali dengan dibukanya lebar-lebar kran politik pasca reformasi. Sementara sebagian lagi sebagai pendobrakan atas dominasi penerbitan yang cenderung “mempersulit” keberadaan penulis. Bahkan proses seleksi kerap “keliru” dalam menilai kualitas dan potensi naskah. Tak jarang naskah yang tertolak di berbagai penerbit justru best seller ketika diterbitkan sendiri.
Setiap Orang Bisa Menerbitkan Buku
Ada banyak motivasi yang melatari seseorang menerbitkan karyanya sendiri. Setidaknya dari sisi idealitas seorang self Publisher akan mendapat kebebasan berekspresi. Kerap seorang penulis harus menghadapi kenyataan tidak memuaskan saat berhadapan dengan penerbit karena ada hal-hal yang bersifat prosedural. Mulai dari pemotongan naskah, perubahan isi agar sesuai visi penerbit, sampai pada hal yang paling tidak disukai setiap penulis: menunggu! Terutama menunggu ketidakpastian karena seolah nasib naskah sepenuhnya ada ditangan penerbit. Jika jawabannya ya, itupun harus menunggu sekian lama untuk naik cetak…..
Motivasi lain seorang self publisher adalah kepuasan yang akan didapat setelah karyanya menjelma menjadi sebuah buku dan akan dibaca sekian banyak orang. Kita tahu kepuasan tidak bisa dinilai dengan uang! Hadirnya gengsi pun tak terelak karena mampu merealisasikan ide dan gagasan dalam bentuk nyata dan dapat dipahami orang lain. Bahkan mungkin akan menginspirasi sekian banyak pembacanya…
Bisnis yang Sangat Prospektif
Semua mungkin hampir sepakat jika profesi penulis belum cukup dihargai dan belum bisa dijadikan pendapatan tetap. Rasanya baru sebatas mimpi ketika kita mengandalkan penghasilan dari menulis. Apalagi jika mengetahui pihak yang akan mendulang untung dari kekayaan intelektual penulis. Ya, tentu saja penerbit, sementara penulis hanya mendapat royalty yang tidak seberapa, plus potong pajak. Maka tidak salah kalau penulis yang ingin berpenghasilan besar harus menerbitkan sendiri karyanya. Sebagai contoh, penulis akan mendapat 10% royalty dari penerbit. Dengan harga buku Rp. 40.000 berarti hanya dapat Rp. 4000 per buku. Selebihnya milik penerbit dan distributor!
Succsess story tentang self publishing bisa dilihat dari buku ESQ dan ESQ Power yang ditulis dan diterbitkan sendiri oleh Ary Ginanjar. Buku itu mampu terjual secara fantastis bahkan mengalami cetak ulang dan telah terjual hingga 250.000 eksemplar. Lalu Dewi Lestari dengan novel Supernova mampu menerbitkan dan memasarkan sendiri. Cetakan pertama 5.000 eksemplar, kemudian dicetak ulang hingga mencapai angka 32.000 eksemplar. Juga buku-buku Aa Gym yang diterbitkan sendiri. Tidak mau kalah dengan novel Eiffel I'm in Love karya Rachmania Arunita dan juga Andrias Harefa dengan bukunya berjudul Pesona Bisnis Direct Selling & MLM juga menangguk untung besar.
Tidak Ada Syarat Khusus
Tidak ada syarat khusus untuk menerbitkan buku sendiri. Setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan:
• Naskah
• Editing
• Desain
• Biaya cetak
• Penjualan dan distribusi
Untuk biaya cetak sangat fleksibel, disini pakem cetak 3000 eksemplar sama sekali tidak berlaku. Penulis bisa mencetak 1000 buku atau 2000 buku sesuai kemampuan biaya. Misalnya dengan ukuran buku standar 14 x 21 cm ketebalan 150-200 halaman. Jadi untuk cetak 1000-3000 buku biaya yang dibutuhkan Rp. 10-25 juta. Dengan keuntungan yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan royalty yang hanya 10% perbuku!
Sementara untuk syarat terakhir saat ini tidak sulit untuk di jalankan, setelah buku tercetak, begitu banyak distributor atau toko buku yang sudah menunggunya. Juga dengan internet kini seorang self-publisher mampu mempromosikan bukunya. Atau, keduanya di jalankan; melalui jalur konvensional dan internet. Sangat mungkin kegiatan yang awalnya hanya berbentuk home industry, seorang self-publisher kemudian berkembang menjadi sebuah perusahaan dengan bentuk CV, PT atau yayasan. Dunia penerbitan di Indonesia memang banyak diawali dengan langkah-langkah seperti ini. Jadi, tunggu apa lagi?
[Helmy, penulis adalah editor, penulis buku, dan praktisi penerbitan mandiri. Bisa dihubungi via email: helmy.barometer@gmail.com]
|
|
|